Skip to main content
Choose language :

English          Indonesia           Sunda

Popular posts from this blog

It is (Not) the Beginning - Pembibitan Alumni PTAI 2013

Cerita ini dimulai sejak pelepasan alumni yang diadakan fakultas psikologi. Saat itu dekan mengumumkan bahwa ada peluang beasiswa ke luar negeri yang diprioritaskan untuk lulusan terbaik. Alhamdulillah untuk gelombang wisuda kali ini, saya menjadi lulusan terbaik dan tercepat. Seusai pelepasan, saya bergegas menghampiri Pak Agus-wakil dekan I (yang sudah mau masuk mobil), untuk bertanya lebih lanjut mengenai beasiswa tersebut. Beliau menjelaskan bahwa syarat lain yang harus saya penuhi adalah nilai TOEFL yang cukup, dan untuk pengumuman lebih detailnya, suratnya sedang difotokopi oleh Neyna-salah satu sahabat saya, jadi katanya nanti saya tinggal minta ke dia. Okay. Dan mulailah saya mencari-cari kursus TOEFL MURAH (yang sama sekali nggak mungkin murah) kemana-mana. Tapi kemudian saya memutuskan belajar sendiri dengan mengerjakan latihan di buku TOEFL (buku yang saya rekomendasikan untuk TOEFL ITP adalah “An Easy Way To Answer TOEFL” karya Otong Setiawan Djuharie). Saya juga mul...

My First Scientific Performance

Jadi gini, sejak kecil saya sudah tergila-gila dengan go international , sok-sok ikutan pameran pendidikan luar negeri lah, dengerin lagu-lagu bahasa Inggris lah, bikin foto gedung-gedung universitas top dunia jadi wallpaper komputer lah, dan lain sebagainya. Dan ini berlanjut sampai saya kuliah, begitu skripsi psikologi saya selesai, abstraknya saya terjemahkan ke dalam bahasa Inggris (dengan koreksian dari Fauzan dan Noey , thanks guys!) dan saya kirimkan ke beberapa konferensi internasional (tanpa memikirkan darimana biayanya ataupun bagaimana saya akan mempresentasikannya). Ternyata abstrak saya itu diterima di ISEPSS (International Symposium on Education, Psychology, and Social Sciences) di Malaysia. Tetapi biayanya tinggi sekali dan meskipun saya berhasil mendapat sumbangan dan pinjaman untuk pendaftarannya, tapi ternyata dengan berbagai halangan akhirnya saya tidak jadi mendaftar ke symposium itu. Kemudian datanglah email dari ICP HESOS (International Conference on Psycholo...

Alice Through the Looking Glass from my eyes

Seri film Alice in Wonderland kayak punya magnet tersendiri buat saya. Meskipun ilustrasi-ilustrasi tokohnya di film lebih banyak mengerikan ketimbang imut layaknya cerita fantasi anak-anak, tapi saya nggak bisa berhenti untuk mengikuti ceritanya. Setelah sekian lama menunda untuk menonton film ini, akhirnya selesai nonton barusan (ditambah ngelihat status Path-nya Disa Zita yang nonton ini juga kemarin, jadi keingetan pengen nonton, hihi). Sinopsis ceritanya mungkin sudah bisa atau akan segera bisa dilihat setidaknya di Wikipedia. Saya cuma mau menggarisbawahi hal-hal yang saya terima, rasakan, dan maknakan setelah menonton film ini. Pertama, adegan dimana Alice memiringkan kapalnya saat melewati laut dangkal sementara dikejar bajak laut untuk menunjukkan bahwa bahkan hal yang tidak mungkin pun akan dapat kita lakukan, selama kita yakin. Tambahan: dan memang nggak ada jalan lain selain dengan melakukan hal yang tidak mungkin itu. Ini juga sebenarnya cuma parafrase dari percakap...