Skip to main content

Posts

Alice Through the Looking Glass from my eyes

Seri film Alice in Wonderland kayak punya magnet tersendiri buat saya. Meskipun ilustrasi-ilustrasi tokohnya di film lebih banyak mengerikan ketimbang imut layaknya cerita fantasi anak-anak, tapi saya nggak bisa berhenti untuk mengikuti ceritanya. Setelah sekian lama menunda untuk menonton film ini, akhirnya selesai nonton barusan (ditambah ngelihat status Path-nya Disa Zita yang nonton ini juga kemarin, jadi keingetan pengen nonton, hihi). Sinopsis ceritanya mungkin sudah bisa atau akan segera bisa dilihat setidaknya di Wikipedia. Saya cuma mau menggarisbawahi hal-hal yang saya terima, rasakan, dan maknakan setelah menonton film ini. Pertama, adegan dimana Alice memiringkan kapalnya saat melewati laut dangkal sementara dikejar bajak laut untuk menunjukkan bahwa bahkan hal yang tidak mungkin pun akan dapat kita lakukan, selama kita yakin. Tambahan: dan memang nggak ada jalan lain selain dengan melakukan hal yang tidak mungkin itu. Ini juga sebenarnya cuma parafrase dari percakap...

My Second Scientific Performance: 8th World Congress of Behavioural and Cognitive Therapies 2016

Sejak awal kuliah master di pertengahan 2014 lalu, saya udah mulai hunting conferences yang kira-kira bisa saya coba untuk daftar. Perburuan tersebut terus berlangsung sampai 2015. Salah satu ketentuan pembiayaan LPDP adalah at cost tapi tidak lebih dari Rp 15.000.000,- Saya berburu lebih kencang lagi karena kalau Eropa, US, dan negara lainnya, 15juta mungkin hanya cukup untuk tiket pesawat saja. Salah satu alternatif lokasi paling realistis adalah Australia, negara terdekat dari New Zealand. Mulailah saya fokus mencari events di negeri kangguru itu, dan menemukan informasi the 8th World Congress of Behavioural and Cognitive Therapies (WCBCT) yang akan diadakan di Melbourne. Event lain yang saya pertimbangkan adalah The 23rd Congress of the International Association for Cross-Cultural Psychology di Nagoya, Jepang. Tapi kongres tersebut akan dilaksanakan di tanggal yang melewati masa kontrak beasiswa saya dengan LPDP. Maka fokuslah saya terhadap WCBCT dan berdoa sekuat tenaga semoga...

Lord of the Rings Tour: Hobbiton

Hobbiton adalah salah satu tempat yang dari sebelum saya datang ke New Zealand sudah masuk bucket list. Setelah hampir 2 tahun saya tinggal disini, Hobbiton-nya baru kesampaian sekarang. Kenapa? Karena saya nggak tega kalau harus jalan kesana sendirian atau cuma berdua sama suami, tanpa anak-anak dan mamak saya. Akhirnya alhamdulillah Allah kasih kesempatan mereka buat kesini dan bisa ke Hobbiton bareng-bareng. Sekitar 2 minggu-1 bulan sebelum ke Hobbiton Booking One Day Trip to Hobbiton via nakedbus.com. Trip-nya termasuk tiket PP Auckland-Matamata dan tiket masuk Hobbiton. Total 90-100 NZD per orang dengan rincian: tiket Hobbiton sekitar 70 NZD, plus tiket bis PP 20 NZD, Ini udah keitung murah kalo dibandingin sama tiket bis normal yang bisa 35 NZD sekali jalan. Hari H 7.05 AM Ketinggalan bis! Coba kalo bisnya yang telat, kita disuruh nungguin. Lah kalo kita yang telat? Licik ah (Abaikan, ini cuma pikiran picik nan bercanda). Emang kita terlalu santai sih, bangun dan si...

Diary of a Thesis - Day 270

After several days of procrastinating, frustrating, thinking, writing, boring, yet exciting, my author was finally got on track! She finalized my method section and got a green light from our lovely supervisor to continue to focus on other sections. My results section is starting to show it's shape and is awaiting for next week feedback. This week's plan is to write discussion as much as she can. I hope I could help, but I can only remind her of how she wrote the results, and try to analyse it from a further view to see the broader yet deeper thoughts about it. Another thing that I encourage her to do is to read more articles to obtain richer empiric supports. Meanwhile, her Australia visa for World Congress of Behavioural and Cognitive Therapies 2016 has been granted. So this week she was also busy to arrange the preparation. Tickets and hotel had been booked, she just need to do three more things: prepare the presentation, present the paper, and submit for seminar fund reim...

Antara Organisasi dan Pertemanan (Kenapa Saya Unfollow Pak RK)

Minggu kemarin New Zealand kedatangan salah seorang tokoh keren dari Bandung, sebut saja RK. Melihat kontribusinya yang bejibun dan mengenang pertemuan saya dengan beliau jauh sebelum beliau menjabat, sudah bisa ditebak dong sebesar apa keinginan saya untuk ketemu lagi dengan beliau. Pada mulanya saya dengar dari salah satu teman bahwa beliau akan menghadiri dialog bersama mahasiswa Indonesia di Auckland, yang kemudian dibatalkan. Ini kayak sudah berharap sampai ke awan terus dibanting jatuh. Dan tiba-tiba di malam terakhir beliau di Auckland, saya mendengar kabar kalau ternyata pengurus organisasi sudah bertemu dengan beliau saat makan malam. Dan rasanya kayak dipukul pake pukulan dewa-nya Stephen Chow di Kung Fu Hustle. Yang saya kecewakan dan/atau sayangkan bukan cuma karena saya nggak jadi ketemu lagi dengan beliau, tapi juga: 1. Teman yang saya kira sudah sangat dekat dengan saya, yang kebetulan pengurus juga, malah nggak ngasih info sama sekali tentang pertemuan itu. Padahal ka...

A Good Friday Afternoon in Devonport

Easter holiday started and it's also my husband's day off, so we decided to jump on a ferry and went to Devonport. Ferries in many destinations from and to Auckland accept AT Hop card. The adult fare is NZD 6.20 in cash, or 4.50 (3.60 for tertiary students) with AT Hop. The child fare is 3.70, or 2.30 with AT Hop. Seeing AT Hop applies to many type of transportation, it might be one of the indicators that Auckland public transports (buses, trains, and ferries) are pretty well-integrated. Ferry ride During the ferry trip, Keke and Firyal very excited and stand still on the deck to see the sea. My mom, she also enjoyed the view, while crying. This crying is a happy one I guess, since she had the tears in the same time she had those big smiles. My husband, as usual, sat near the window and observed everything with his handsome-ness (ignore this one, his handsome-ness can only be detected by his wife, who is happened to be me). Me? While enjoying the sea view, I googled and down...

Preparing Your Kids for a New Place

Get nervous and anxious in a new environment are normals. To reduce it you might need to provide some psychological preparation for your kids. In experience with my children, and in consultation with a child psychologist (candidate), teh Feti, here I summarized some of the key things. Get them involve in the decision making process We explain the available options, including the option to stay in Indonesia without me, or with me which means I am not continue the masters study, or join me in NZ. We could also explain the strengths and weaknesses if we go or not go to NZ. When they involved in the decision making process, they will understand and try to be ready for the consequences. Describe further about their decision Before the departure, introduce them about the place we will visit. How is the situation, its people, its culture, and other information related to the place. This introduction might help children to illustrate what it is going to be in a new place and they will tr...

Bring Family to New Zealand

After 1,5 years, alhamdulillah my whole family finally come to NZ. My husband already here since my 2nd semester, and I believe his presence helped me to optimize my brain during masters study. And after passed postgraduate diploma study, I became more determined to prepare my kids and my mums departure. Here are the details. Husband's Visa NZ, as well as Aussie and UK (I don't know about other countries), can grant an open work visa for student's or worker's partner. This is a great opportunity since to have a work visa usually requires certified skills demanded in NZ and letter from the employer. Meanwhile, my husband just need to attach my student visa in his work visa based on partnership application. Although the work mostly casual, but we believe this experience is valuable, insya Allah. Children's Visa Kesturi and Firyal have different visa types. While Firyal has visitor visa (dependent), Kesturi has student visa. Again, alhamdulillah, because my...

Diary of a Thesis - Day 253

I just decided to write my journey after 252 days of quirky contemplation. Quirky here means I finally got approval from Ethics Committee after three months of my author's thinking, revising, waiting, bewildering, negotiating, and loving myself to grow without hurting anyone. Quirky here means I finally collected all the data after three months of my author's works: traveled Bandung-Tanjungsari on weekdays, spent time with her daughters during the nights and weekends, and did the sometimes-frustrating trials and errors. Quirky here means I was becoming one of the tiring processes in my author's life, but in the same time, both of us gain many wonderful experiences.  It's been 30 days (approximately) since my author started to change me from memories into scientific words. Until now I've got my initial intro, method, results, and discussion parts which still require more development. I want to help my author, but I don't know how. I just try to be more attra...

Meet the Robinson

Around here, however, we don't look backwards for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new things, because we're curious... and curiosity keeps leading us down new paths. Walt Disney

(Bukan) Teman Biasa

Ini pendapat subjektif ya. Manusia nggak bisa hidup sendiri, bahkan Allah mengirim Hawa untuk menemani Adam. Sampai sekarang, saya nggak bisa nggak setuju tentang pentingnya ketidaksendirian alias teman. Entah itu ditemani orang tua, teman sebaya, pasangan, anak, atau bentuk lainnya. Walaupun kebutuhan akan teman itu akan berbeda-beda tiap orang, tiap usia, tiap lingkungan. Kalau waktu remaja pertemanan itu seputar siapa lebih dekat sama siapa, siapa yang dijauhin sama siapa, siapa yang suka main bareng sama siapa. Waktu kuliah naik pangkat jadi siapa yang ada untuk siapa saat susah, siapa yang membocorkan rahasia siapa, siapa yang membantu belajar siapa. Dan ketika lulus menjadi, kapan bisa KETEMU siapa, siapa KEBETULAN ketemu siapa, siapa NYAMBUNG sama siapa. Dan kadang, meski siapa itu bisa jadi cuma satu-dua orang, tapi kenyambungan itu bisa jadi cuma satu arah (Disa, 2015). Jadi ternyata bukan cuma cinta yang bertepuk sebelah tangan, pertemanan juga bisa bertepuk sebelah t...

Diary of a Thesis - Prolog

Hati-hati membaca balada ini karena bakalan masih bersambung macam sinetron. Akhirnya saya alhamdulillah lulus dari PGDipArts dan resmi jadi mahasiswa Master of Arts. Rasanya itu kayak berhasil mendaki tebing yang curam dan akhirnya bisa menikmati pemandangan yang indah di sekitarnya (New Zealand undoubtedly beautiful, tapi sepertinya saya baru bisa nikmatin keindahannya setelah lulus PGDip ini. Jadi selama ini foto-foto saya tersenyum dengan background pemandangan indah di New Zealand sebelum lulus PGDipArts itu cuma pencitraan kebahagiaan, yang padahal di dalamnya penuh dengan ketegangan). Bukan cuma tegang, kadang ada saat-saat dimana saya merasa stuck dan pengen pulang aja ke Indonesia, buat males-malesan di rumah, hidup dengan santai tanpa tantangan. Tapi somehow pada akhirnya saya bisa bangkit mengangkat pantat untuk bergerak mulai belajar lagi. Pembelajaran di kelas sudah dilalui, dan tiba waktunya memasuki dunia penelitian kembali. Yang saya pikir, it will be soooo much easie...

Wellington, Middle of the Middle Earth (Hari 1)

Jadi ceritanya Awardee LPDP se-New Zealand pengen ketemuan. Dengan mempertimbangkan Wellington sebagai ibu kota New Zealand dan lokasinya di tengah-tengah, kamipun memilih Wellington. Sebagai informasi, per Agustus 2015 ini Awardee LPDP berjumlah 22 orang (1 di Dunedin, 3 di Christchurch, 3 di Wellington, dan 15 di Auckland). Awalnya kami berencana untuk berkumpul sekitar tanggal 17 Agustus untuk sekalian merayakan kemerdekaan di KBRI Wellington, namun apa daya kebanyakan dari kita tidak bisa meliburkan diri di tanggal segitu. Jadilah 1 Agustus dipilih sebagai waktu yang dirasa tepat (enaknya pakai Bahasa Indonesia begini, bisa dipanjang-panjangin, hehe). Karena perbedaan jadwal kuliah, terdapat beberapa kloter kedatangan-yang akan diceritakan seiring dengan kegiatan berikut.

Semester Terakhir di Postgraduate Diploma

Sebelumnya saya mau cerita soal skema studi yang harus saya lalui di Auckland Uni ini. Jadi studi master dengan total 2 tahun itu terdiri dari 1 tahun Postgraduate Diploma (PGDip) yang terdiri dari perkuliahan di kelas dan 1 tahun Master dengan penelitiannya. Jika nilai PGDip mencukupi, barulah saya diizinkan untuk lanjut ke Master. Alhamdulillah, meskipun dengan perasaan tegang sepanjang waktu karena di semester lalu nilai saya sedikit kurang memenuhi syarat, akhirnya di semester ini hasilnya lebih baik dan sayapun masih diberi kesempatan untuk melanjutkan Master. Berdasarkan pengalaman belajar semester sebelumnya, saya jadi lebih berhati-hati dalam memilih mata kuliah yang akan diambil di semester kedua ini. Kriteria yang saya pertimbangkan diantaranya:

Postgraduate Life: The Study (First Semester)

Before I share my memories for the last four months, I want to express my disappointment and embarrassment feeling since I cannot update my blog too often (or even never!). It is like I wasted my paid domain even though the fee is quite affordable. As you know, I’ve been accepted as Postgraduate student at the University of Auckland, New Zealand at July 2014. And since then, I am officially become super busy again, even more busy than my two undergraduate experience! To analogize, I feel like Olaf (a snowman in the Frozen movie) admiring summer. I (Olaf) really love to and want to go study abroad (enter the summer), without knowing that ‘abroad’ thing could melted you down and destroy you (just like the ice melted by the heat of the sun). And you need your personal (snow) flurry to be survived, or on the other words, I need to create my own world inside this estrange world so I won’t get too shocked easily. It is indeed a hard thing to do, since creating comfortable zone in the war are...

Jadi Mahasiswa (Lagi)

Yang bikin saya bahagia dan rela jauh-jauh datang ke New Zealand bukan cuma karena ini adalah negara yang indah dan bisa memuaskan hasrat jalan-jalan para tourists, tapi lebih kepada kesempatan belajar yang saya beruntung banget bisa mendapatkan salah satunya. Ah, ribet banget introductionnya. Langsung aja ya ke cerita saya tentang pertama kali masuk kelas. Preparation Kalo ini saya jadi inget beberapa mata kuliah di UIN dulu (kayak Psikodiagnostika dan Psikologi Abnormal) yang sebelum masuk kelas itu otaknya harus udah ada isinya, kecuali kalo mau dibikin malu atau nggak dapet nilai tambahan. Di AucklandUni ini juga ada salah satu dosen dari empat courses yang saya ambil, yang udah posting bahan kuliahnya sejak 1 bulan sebelum mulai kuliah, oh wow. Belum apa-apa udah ngerasa overwhelmed aja. Tapi karena jalan ini yang sudah saya pilih, insyaAllah saya akan terus berusaha melanjutkan dan menikmatinya. Mata kuliah lain mulai menyusul memberikan silabus dan reading list-nya bebera...

Kia Ora

Menunggu Tahun ini adalah tahun dengan momen menunggu terbanyak sepanjang hidup, mulai dari menunggu Keke keluar kelas saat menjemputnya pulang sekolah, menunggu pengumuman seleksi beasiswa beberapa tahap, mengikuti proses pendaftaran universitas, menunggu visa keluar, menunggu pencairan dana setelah pengajuan, menunggu kabar atau konfirmasi dari pihak-pihak terkait keberangkatan, dan menunggu-menunggu lainnya. Tapi karena ini yang saya inginkan, maka menunggu itu menjadi suatu keindahan. Meskipun harus bertetes-tetes air mata, berdarah-darah, tetap saja rasanya nikmat (pada akhirnya). Setelah sesi menunggu visa berakhir, saya akhirnya mendapatkan tiket pesawat CGK-SYD-AKL untuk tanggal 18 Juli. Dan begitu melihat e-ticket masuk ke email saya, rasanya masih seperti mimpi. Beneran ini teh saya mau belajar ke luar negeri? Beneran ini teh saya mau ninggalin keluarga dan harus melewati masa menunggu yang menyiksa itu lagi? Beneran ini teh saya mau masuk ke kelas yang bahasanya full ...

Idealis terhadap Realitas

Setelah baca postingan blog terbarunya sahabat saya, Dedew, khususnya kata-kata ini : Keinget SMS-anku dengan salah seorang kawan, tentang  realita  vs  idealisme . "I need ur view, mana yang lebih baik, memilih idealis mengejar mimpi yang belum pasti, ato bersikap realistis menerima keadaan yang ada walau tidak memuaskan diri?" "Saya tidak pernah sangat realistis ataupun idealis. Saya selalu milih di tengah-tengah. Pragmatis, kalau kata orang. Terima keadaan, tapi tetap berusaha mencapai mimpi. Kamu pikir kenapa saya tetep gini-gini aja sampai sekarang?" "Gini-gini aja? Merendah nih?" "Ya memang hidup saya gak ideal sih. Gak seideal yang saya pengen." "Nah tu kan sudah terjadi. Di masa yang akan datang?" "Diam-diam saya akan terus mengejar mimpi kok. :)" Duuh. Betapa obrolan yang bikin saya mikir sampai sekarang ( obviously, I'm an over thinker, too. I just don't show it off a lot ). 

Student Visa ke New Zealand

Hari pengumuman kelulusan PK kemarin juga merupakan hari dimana saya mendapatkan Unconditional LoA dari University of Auckland, sekaligus Letter of Guarantee (LG) dari LPDP. Sejak sebelumnya saya sudah gelisah karena khawatir proses pengajuan visa pelajar ke New Zealand akan memakan waktu lama, tapi saya percaya Alloh yang Menentukan waktu-waktu eksekusi kehidupan saya yang diamanahkan melalui pihak-pihak lain (seperti LPDP dan University of Auckland), karena saya sudah berikhtiar, tinggal pasrah dan menunggu eksekusi tersebut. Dan begitu semua ‘surat jalan’ tersebut datang di hari yang sama, keesokan harinya saya langsung mengajukan visa. Tapi sebenarnya masih belum mengajukan visa secara harfiah, karena ternyata setelah itu masih ada beberapa ‘insiden’, seperti LG asli harus disertakan di aplikasi visa (yang berarti saya harus ke LPDP dulu mengambil surat fisiknya), nama passport yang berbeda dengan nama KTP (sehingga saya harus mengajukan revisi nama di LG terlebih dahulu agar ...